Prof. Rudy, Antara Pendidikan, Rektor, dan Seni Grafiti

kemahasiswaan.moestopo.ac.id (Jakarta) – Pada Jumat (1/4/2016) silam, Prof. Dr. Dr. Dr. Rudy Harjanto, S.Ikom., M.M., M.Sn resmi menjabat sebagai Rektor Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) periode 2016-2020 menggantikan Rektor lama, Prof. Dr. H. Sunarto, M.Si yang telah menjabat selama dua periode berturut-turut sejak 2008-2016. Itu artinya, baik atau tidak, maju atau mundur universitas yang didirikan oleh Prof. Dr. Moestopo tersebut kini berada di tangan Rudy Harjanto.

Seperti harapan yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Sunarto, M.Si dalam sambutannya kala itu yang mengatakan agar UPDM (B) bisa menjadi lebih baik lagi. “Kalau selama ini Universitas ini sudah sehat dan unggul, tapi belum punya juara. Harapannya, dengan kepemimpinan yang baru ini bisa menjadi juara, setidaknya 5 terbaik di antara Kopertis ini. Dan Akreditasi kampus dari Akreditasi B ke Akreditasi A,” kata Sunarto di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Bintaro.

Sebelum menjabat Prof. Dr. Dr. Rudy Harjanto, S.Ikom., M.M., M.Sn atau yang biasa dipanggil Prof. Rudy mengaku mempersiapkan banyak hal, termasuk terus belajar dan mempertajam kemampuan agar siap bersaing pada masa mendatang. Prof. Rudy mengatakan, pendidikan merefleksikan apa yang harus diantisipasi ke depannya. “Sebagai langkah awalnya, kita mengembalikan UPDM (B) sebagai pusat pendidikan, pelatihan, pengabdian masyarakat dan penelitian yang dapat bersaing dengan dunia luar. Jangka pendeknya kita akan tingkatkan pelatihan supaya usia produktif ini punya keahlian yang membuat mereka bisa bersaing dengan negara tetangga,” ujarnya.

Prof. Rudy mengatakan punya target pencapaian dalam periodenya. Pertama, dosen dan mahasiswa diharapkan aktif dalam penelitian. Kedua, mahasiswa UPDM(B) mampu aktif dan bersaing dengan universitas lain. “Kita bangun mahasiswa kita memiliki pendidikan yang bukan hanya sekedar dari buku namun memiliki skill atau praktiknya, serta dosen bukan hanya sekedar dosen namun menjadi seorang mentor, pembimbing, sekaligus fasilitator buat mahasiswa,” tuturnya sambil berharap untuk meraih pencapaian tersebut, semua pihak UPDM (B) dapat mendukung program-program yang akan dilakukan.

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, sebelum menjabat sebagai Rektor UPDM (B), Prof. Rudy mengutamakan pendidikan sambil mempertajam kemampuan. Terbukti, satu bulan sejak menjabat, Prof. Rudy berhasil meraih gelar doktor ketiganya dengan predikat cumlaude dalam sidang terbuka yang digelar di Gedung Rektorat Intitut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Sabtu (21/5/2016) silam. Dengan Program Studi Ilmu Seni Rupa dan Desain ITB, Rudy dalam sidang doktor tersebut menyampaikan disertasi berjudul ‘Senirupa Partisipatori di Kampung Babakan, Binong Tanggerang Banten’.

Dengan adanya penambahan gelar doktor ketiganya tersebut, penulisan nama Rudy Harjanto pun menjadi Prof. Dr. Dr. Dr. Rudy Harjanto, S.Ikom., M.M., M.Sn. Menurut Rudy, gelar yang diraihnya masih tak kalah penting dengan apa yang sudah dipelajarinya agar bisa bermanfaat bagi orang lain. “Saya kira itu cuma gelar akademis saja ya. Sebenarnya kita belajar di manapun sama. Cuma saya memilih jalur akademis karena lebih terstruktur. Yang lebih penting bukan gelarnya, tapi apa yang bisa saya lakukan dari apa yang sudah dipelajari. Jadi seni itu harus bisa lebih bermanfaat untuk lingkungan dan orang lain,” jelasnya merendah.

Meski demikian, Prof. Rudy bersyukur bisa mendapatkan gelar dengan predikat cumlaude. Karena dengan begitu, artinya semua jerih payahnya tak sia-sia, terutama untuk kepentingan masyarakat. “Terimakasih banyak, artinya jerih payah saya ini mungkin bisa memberikan manfaat yang bagus buat kepentingan masyarakat,” pungkas Prof. Rudy yang selama emam tahun berupaya untuk menjadi seorang artis.

Berbicara tentang kegemarannya melukis dan kini bahkan sudah disebut sebagai seorang pelukis dan artis grafiti, Prof. Rudy mengaku butuh waktu cukup lama, yakni 6 tahun. “Agar bisa memiliki keahlian itu, saya belajar selama 5,5 tahun. Itu salah satu cara saya mengubah diri menjadi seorang pelukis dan artis grafiti. Seni adalah sebuah ilmu pengetahuan yang harus bisa bermanfaat untuk orang lain. Saya memandang seni itu ilmu pengetahuan. Seni jadi salah satu daya tarik yang membuat sesuatu menjadi lebih menarik disampaikan kepada khalayak,” jelasnya.

Dengan seni, lanjut Prof. Rudy, seseorang bisa memikirkan orang lain bagaimana konteks manusia itu bukan lagi dengan karya tapi dengan lingkungan. “Seni harus mengkaitkan lingkungan serta konteks sosialnya,” pungkasnya.

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *